#GeneratorIman

Seperti biasa sebelum Ramadhan seperti ini saya jemput kedua orang tua saya di Jawa Timur untuk memohon kepada beliau agar mau tinggal di Pondok saya, agar ibadah Ramadhannya lebih bernilai dan terkontrol (maklum orang awam),

Namun kali ini beliau punya permintaan, minta dibeliin rumah yang dekat masjid, Karena rumah yang sekarang beliau tempati agak jauh dari masjid (untuk ukuran orang yang sudah sepuh) dan masjid sekitar jarang ada pengajian dan gak ada Jamaah wanitanya,

Tanpa alasan apapun saya mengiyakan walaupun sebenarnya saya harus ngutang dulu untuk beli rumah yang diincar oleh orangtua saya itu, sebelum rumah lama laku terjual,

Namun raut muka bahagia setelah saya mengiyakan itulah yang saya cari (Ridho keduanya), maka dengan senang hati beliau bersedia saya boyong ke pondok saya di Tasikmalaya mulai bulan ini hingga Syawal nanti, biasanya sampai bulan Zulhijjah ba’da idul adha baru minta pulang, inginnya sepanjang tahun bersama beliau,

Karena ada sebuah hadits yang cukup mengancam :

” Sungguh hina, sungguh hina, kemudian sungguh hina, orang yang mendapatkan salah seorang atau kedua orangtuanya lanjut usia di sisinya (semasa hidupnya), namun ia tidak memasukkannya ke Surga.” (HR: Ahmad).
= maksudnya Beliau dibiarkan meninggal dalam keadaan Suu ul Khotimah tanpa bimbingan Talqin dari anak-anaknya.

Sungguh kerugian besar bila ada seorang Muslim yang menjumpai orangtuanya lanjut usia tetapi tidak merawatnya dengan tangannya sendiri, lebih mementingkan dirinya sendiri, mengkhawatirkan masa depannya sendiri, dan malah justru menitipkannya ke panti jompo, na’udzubillahi min dzalik.

Padahal, dirinya tumbuh dewasa dan pintar karena pengorbanan tanpa pamrih dari orangtua. Dengan perantara orangtualah kita ini lahir di dunia, kemudian tumbuh menjadi manusia dewasa, berpengetahuan, berpenghasilan bahkan menjadi orang terpandang. Istilahnya, tanpa pengorbanan orangtua, tak akan ada anak jadi dewasa.

Oleh karena itu, di ayat yang lain Allah memerintahkan kita untuk berterima kasih kepada kedua orangtua setelah bersyukur kepada-Nya.

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Bersyukurlah kepadaKu dan kepada ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman [31]: 14).

Jadi, memuliakan orangtua dan merawatnya adalah perkara utama. Bahkan setara dengan jihad (perang) di jalan Allah Ta’ala.

Suatu ketika, seorang sahabat bernama Jahimah pernah datang kepada Nabi dan berkata, “Ya Rasulullah aku ingin ikut perang dan aku datang kepadamu untuk meminta saran”. Rasulullah pun bertanya, “Apakah kamu masih mempunyai ibu?” “Ya, masih,” jawabnya. Maka beliau bersabda, “Kalau begitu, temanilah ia, karena surga itu terletak di kedua kakinya.” (HR. Ahmad).

Dan jangan sampai seperti Kisah dibawah ini terjadi pada diri kita :

Seorang bapak kira² usia 65 tahunan duduk sendiri di sebuah lounge bandara Halim Perdana Kusuma, menunggu pesawat yang akan menerbangkannya ke Jogja. Kami bersebelahan yang hanya berjarak satu kursi kosong. Beberapa menit kemudian ia menyapa saya.

B: “Dik hendak ke Jogja juga ?”

S: “Saya ke Blitar via Malang, Pak. Bapak ke Jogja ?”

B: “Iya.”

S: “Bapak sendiri ?”

B: “Iya.” Senyumnya datar. Menghela napas panjang.

B: “Dik kerja dimana ?”

S: “Saya serabutan, Pak,” sahut saya sekenanya.

B: “Serabutan tapi mapan, ya?” Ia tersenyum. “Kalau saya mapan, tapi jiwanya serabutan.”
Saya tertegun.

S: “Kok begitu, Pak ?

Ia pun mengisahkan, istrinya telah meninggal setahun lalu. Dia memiliki dua orang anak yang sudah besar². Yang sulung sudah mapan bekerja di Amsterdam, di sebuah perusahaan farmasi terkemuka dunia. Yang bungsu, masih kuliah S2 di USA.
Ketika ia berkisah tentang rumahnya yang mentereng di kawasan elit Pondok Indah Jakarta, yang hanya dihuni olehnya seorang, dikawani seorang satpam, 2 orang pembantu & seorang sopir pribadinya, ia menyeka airmata di kelopak matanya dengan tisue.

B: “Dik jangan sampai mengalami hidup seperti saya ya. Semua yang saya kejar dari masa muda, kini hanyalah kesia²-an. Tiada guna sama sekali dalam keadaan seperti ini. Saya tak tahu harus berbuat apa lagi. Tapi saya sadar, semua ini akibat kesalahan saya yang selalu memburu duit, duit & duit, sampai lalai mendidik anak tentang agama, ibadah, silaturrahmi & berbakti pada orang tua.

B: Hal yang paling menyesakkan dada saya ialah saat istri saya menjelang meninggal dunia, karena sakit kanker rahim yang dideritanya, anak kami yang sulung hanya berkirim SMS tak bisa pulang mendampingi akhir hayat mamanya, gara² harus meeting dengan koleganya dari Swedia. Sibuk. Iya, sibuk sekali. Sementara anak bungsu saya mengabari via WA bhw ia sedang mid – test di kampusnya, sehingga tidak bisa pulang…”

S: “Bapak, Bapak yang sabar ya……. “, Ia tersenyum kecut.

B: “Sabar sudah saya jadikan lautan terdalam dan terluas untuk membuang segala sesal saya dik…

B: Meski telat, saya telah menginsafi satu hal yang paling berharga dalam hidup manusia, yakni : Sangkan paraning dumadi. Bukan materi sebanyak apapun, tetapi dari mana & hendak ke mana kita akhirnya. Saya yakin, hanya dari Allah & kepadaNya kita kembali. Di luar itu semua semu, tidak hakiki…!

B: “Adik bisa menjadikan saya contoh kegagalan hidup manusia yang merana di masa tuanya….”
Ia mengelus bahu saya & saya tiba² teringat ayah saya. Spontan saya memeluk Bapak tersebut. Tak sadar menetes airmata. Bapak tua tersebut juga meneteskan airmata….

kejadian ini telah menyadarkan aku, bahwa mendidik anak tujuan utamanya harus shaleh bukan kaya. Tanpa kita didik pun rejeki anak sudah dijamin oleh Alloh swt, tapi tidak ada jaminan tentang keimanannya. Orang tua yang harus berusaha untuk mendidik dan menanamkannya.

Di pesawat, seusai take off, saya melempar pandangan ke luar jendela, ke kabut² yang berserak ber-gulung² terasa diri begitu kecil lemah tak berdaya di hadapan kekuasaanNya.

HIDUP ITU SEDERHANA SAJA. MENCARI REZEKI JANGAN MENGEJAR JUMLAHNYA, TAPI KEJARLAH BERKAHNYA.

Oh ya mau laporan, Keramik kita semua untuk Masjid kita yang sudah terkumpul belum bisa dipasang bulan ini, karena harus menyelesaikan finishing dinding dan tiang-tiangnya, begitu kata pak tukangnya, insya Allah Awal Mei Keramik kita akan dipasang,

Nah, untuk finishing ini kita butuh 500 sak semen sekalian untuk menempelkan Keramiknya, yang mau WAKAF SEMEN, silahkan Rp. 60.000 per sak, ditunggu ya

Saatnya kita Rutinkan Sedekah dan Wakaf untuk Orangtua kita baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, sebagai bukti BAKTI kita kepada keduanya dan menebus dosa-dosa kita terhadap keduanya karena belum sempat menyantuninya,

Ust Aly
Pembina Pondok Tahfidz Quran Yatim Dhuafa ISTAQ Tasikmalaya 087725557550

Tolong SHARE di FB dan Grup WA kita, semoga jadi Amal Sholeh kita semua,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: